KABARKOLAKAUTARA.COM – Dibalik seragam ketat Korps Lalu Lintas, ada gelak tawa dan dialek Bugis yang kental yang kini akrab di telinga warga netizen, khususnya di Kolaka Utara. Ia adalah Aipda Bustam, sosok polisi lalu lintas yang berhasil membuktikan bahwa media sosial bukan sekadar tempat pamer aktivitas, melainkan jembatan kemanusiaan yang nyata.
Perjalanan digital Aipda Bustam dimulai pada akhir tahun 2024. Namun, momentum besar terjadi pada Mei 2025, tepat saat ia mulai serius mengelola konten dan masuk dalam program monetisasi Facebook. Sejak saat itu, akun yang diikuti sebanyak 254 ribu warga fb ini mulai ramai dan menjadi salah satu destinasi tontonan edukatif yang segar bagi masyarakat.
Bukan sekadar mengejar angka engagement, Aipda Bustam memiliki cara unik untuk menarik perhatian warga. Humor. Dengan aksen Bugis yang autentik dan pembawaan yang jenaka, ia menyisipkan pesan-pesan tertib lalu lintas tanpa kesan menggurui.
Yang membuat sosoknya begitu dicintai bukanlah sekadar kelucuannya, melainkan bagaimana ia mengelola hasil dari konten tersebut. Aipda Bustam menyalurkan pendapatan dari monetisasi Facebook-nya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Aipda Bustam biasa membagikan helm gratis bagi pengendara yang ditemui belum memiliki pelindung kepala yang layak. Selain itu, ia kerap belanja Sepatu Baru untuk Siswa yang sepatunya sudah rusak atau tidak layak pakai.
“Harapan saya, polisi tidak hanya hadir saat penegakan hukum saja, tetapi juga sebagai sumber informasi, edukasi, dan pengayom yang humanis serta transparan,” ungkapnya.
Bagi Aipda Bustam, media sosial adalah alat untuk meruntuhkan dinding pembatas antara polisi dan masyarakat. Ia ingin menunjukkan wajah Polri yang mudah dijangkau dan siap mendengarkan.
Dalam setiap kesempatan, ia tak lelah berpesan kepada warga Kolaka Utara:
“Selalu patuh aturan berlalu lintas. Mari kita jaga keamanan dan kelancaran jalan bersama. Gunakan media sosial secara bijak, jangan mudah terprovokasi hoaks, dan jangan ragu berkomunikasi dengan kami. Polisi hadir untuk melayani.”
Kisah Aipda Bustam adalah pengingat bahwa di era digital ini, seorang abdi negara bisa menjadi pahlawan dengan cara yang modern: satu unggahan, satu tawa, dan satu pasang sepatu baru untuk masa depan generasi bangsa.






