Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Flores: 14 Orang Meninggal Dunia dan Ribuan Warga Mengungsi

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi sekitar pukul 04.58 WIB mengakibatkan dampak kerusakan serius dan menelan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga pukul 12.30 WIB sebanyak 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan 11 orang mengalami luka ringan. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa data tersebut masih berada dalam proses pendataan, verifikasi, dan validasi di lapangan. Sebaran korban jiwa teridentifikasi di tiga daerah, yaitu tiga orang di Kabupaten Sikka, enam orang di Kabupaten Manggarai, dan lima orang di Kabupaten Manggarai Timur, sementara korban luka tersebar di Kabupaten Sikka, Nagekeo, Manggarai, dan Manggarai Timur.

Guncangan gempa yang berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer atau sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dirasakan kuat selama kurang lebih satu menit di berbagai wilayah NTT hingga Sulawesi Selatan. Kepanikan warga sempat meningkat lantaran munculnya peringatan dini tsunami. Hal ini memicu sekitar 2.000 warga melakukan evakuasi mandiri menuju daerah yang lebih tinggi. Meskipun demikian, BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.31.30 WIB setelah hasil observasi tinggi muka laut menunjukkan tidak adanya kenaikan air laut yang signifikan. Setelah gempa utama, tercatat sedikitnya empat gempa susulan dengan magnitudo M5,5 hingga M6,2 yang dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Kerusakan fisik akibat bencana ini cukup meluas di beberapa kawasan terdampak. BNPB mencatat sementara terdapat 54 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan. Kerusakan juga melanda fasilitas umum, meliputi lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan. Kabupaten Manggarai menjadi daerah dengan dampak paling parah, menyumbang kerusakan pada 29 rumah rusak berat, lima fasilitas kesehatan, dan satu fasilitas pendidikan. Sementara di Kabupaten Nagekeo, gempa menyebabkan kerusakan pada bangunan ibadah dan kantor pemerintahan, disertai pemadaman arus listrik dan kemacetan lalu lintas hingga siang hari.

Saat ini, tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan instansi terkait tengah melakukan kaji cepat, pendataan, serta penanganan darurat bagi warga terdampak. Untuk wilayah Kabupaten Manggarai, sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, termasuk puluhan tenda pengungsi dan posko, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, selimut, tikar, peralatan dapur, tandon air, genset, serta alat komunikasi. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, memverifikasi informasi yang beredar, serta menghindari bangunan yang retak atau rusak guna mengantisipasi bahaya dari potensi gempa susulan.